🏮 Analisis Puisi Yang Fana Adalah Waktu

Artinya "Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". (QS.al-Ikhlas: 1-4). 2. Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Kandungan sila ini sama dengan kandungan isi dari ayat berikut ini; YangFana adalah Waktu. Kita Abadi pertama kali dipentaskan di Yogyakarta pada bulan Juni tahun 2015 lalu. Judul pertunjukan dipinjam dari puisi Sapardi Djoko Damono, Yang Fana adalah Waktu (1978). Sinopsis. Rosnah, mantan buruh migran, adalah perempuan muda yang ingin menjadi ‘artis’ agar bisa bertahan di Jakarta, sebuah kota yang riuh Puisi“Yang Fana adalah Waktu” menyadarkan kita oleh makna-makna tersirat di dalamnya. Bahwasanya tak ada yang abadi di dunia ini kecuali waktu. Karena kita sebagai makhluk tuhan akan kembali ke asalnya. Berdasarkan pendekatan stilistika didapat bahwa puisi tersebut mengandung gaya bahasa kiasan yang diantaranya simile dan metafora. Berdasarkanhasil analisis pada puisi “Yang Fana Adalah Waktu” dapat disimpulkan bahwa setiap puisi tentunya memiliki unsur intrinsik dan ekstrinsik seperti tema, nada, amanat, irama, diksi, biografi, nilai, dan sebagainya. Pada puisi tersebut juga memiliki makna yang mendalam mengenai kehidupan. View8. ANALISIS NOVEL HUJAN BULAN EDUCATION 2017SD2020 at Canisius College. ANALISIS NOVEL Lukas Alvin XIIS2/18 Halaman. 87-130 1. Identitas Buku Judul : Hujan Bulan Juni Penulis : menyaksikanTuhan. Ungkapan-ungkapan itu kadangkala serupa puisi yang kaya metafor, sehingga perlu penafsiran ulang. Misalnya, al-Hallaj mengungkapkan “ana al-Haqq” yang secara harfiah bermakna aku adalah Tuhan, tidak bisa diterima begitu saja. Karena hal itu merupakan ungkapan dalam keadaan fana, dalam keadaan hilang kesadarannya sebagai AnalisPerencanaan di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) (2016–saat ini) Yang Fana Adalah Waktu. Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga Salah satu puisi terindah dan terdalam yang pernah saya baca adalah puisi paling terkenal dari Stevie Smith: Not Waving but Drowning. Denganmemanfaatkan teori analisis semiotika, terungkap maknamaknakhusus yang terdapat didalam puisi-puisi Rabi’ah dan kalimat-kalimat suci dibiarkannyayang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu. 4. Yang Fana Adalah Waktu Source : Yang Fana Adalah Waktu. Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi. 1978 Z6Vpat. 100% found this document useful 2 votes711 views10 pagesOriginal TitleAnalisis struktur batin puisi yang fana adalah waktuCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 2 votes711 views10 pagesAnalisis Struktur Batin Puisi Yang Fana Adalah WaktuOriginal TitleAnalisis struktur batin puisi yang fana adalah waktuJump to Page You are on page 1of 10 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 9 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Dokumentasi oleh Fauziah RamadhaniSiapa yang tak pernah membaca puisi?Kata puisi terdengar sangat akrab di kehidupan sehari-hari, terlebih lagi jika kamu adalah orang yang senang menggauli karya sastra. Bagi yang senang membaca puisi pasti akan dibuat terkagum-kagum dengan deretan kata-kata indah dengan syair penuh makna dari goresan pena sang pengarang. Tapi tahukah kalian apa itu puisi?Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menyatukan kata dalam bahasa untuk menghidupkan imajinasi, ingatan kesan dan luapan perasaan. Untuk bisa mengekspresikan puisi kita harus mengkombinasikannya dengan suara dan kesempatan kali ini, saya akan sedikit mengulas pesan-pesan di dalam sebuah puisi berjudul Yang Fana Adalah Waktu karya seorang penyair kebanggaan Indonesia yang lahir pada tanggal 20 Maret 1940. Ya, Sapardi Djoko Damono atau yang sering disebut dengan singkatan SDD. Beliau merupakan seorang maestro sastra dengan banyak karya yang digemari semua kalangan. Pak Sapardi atau yang lebih akrab disapa Eyang Sapardi mendedikasikan kecintaannya pada sastra dengan mengajar di sejumlah tempat, termasuk Madiun, Solo, Universitas Diponegoro Semarang, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Institut Kesenian Jakarta, dan sempat menjadi dekan dan guru besar. Namum pada bulan Juli 2020 lalu, Pak Sapardi menghembuskan napas terakhirnya pada usia 80 tahun. Kepergian penyair legendaris ini membawa kesedihan yang mendalam bagi para penikmat mengagumi karya-karya Pak Sapardi karena kekuatan majas dan diksi yang sederhana sekali. Karya-karya Pak Sapardi juga selalu menyihir benda mati menjadi hidup, bagi saya ini merupakan ciri khasnya. Dari banyaknya karya yang beliau ciptakan, puisi Yang Fana Adalah Waktu merupakan salah satu karya beliau yang paling menarik perhatian saya. Sebuah puisi dengan makna berupa kritik untuk fana adalah waktu. Kita abadimemungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” kali pertama membacanya, saya merasa tersindir sekaligus tersadarkan tentang satu hal. Di dunia ini tidak ada yang abadi. Pak Sapardi mengutarakan sindirannya dalam bentuk kata-kata yang sederhana dan elegan. Menurut saya, hal ini berkaitan dengan kalimat di dalam puisi tersebut, “Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa”. Terdengar seperti pertanyaan, bukan?Kalimat pertama dalam puisi ini begitu kuat seperti pernyataan. Namun nyatanya, puisi ini mengingatkan kita bahwa manusia sering lupa akan kodratnya sebagai makhluk yang fana. Pak Sapardi sengaja membalik kenyataan di kehidupan asli bahwa manusia itu fana dan yang abadi adalah waktu. Saya rasa, Pak Sapardi ingin mengingatkan kita jika waktu terus bergerak maka manusia akan semakin tua dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Manusia akan dikalahkan oleh waktu. Dalam konsep agama, yang mewajibkan manusia untuk tidak mengejar hal-hal berbau duniawi sangat cocok melengkapi makna puisi ini. Kata fana di dalam puisi ini jelas menggambarkan yang diambil dalam puisi ini adalah waktu. Manusia seringkali merasa dirinya bisa menaklukan apa saja dan membuang waktunya demi sesuatu yang fana. Sampai ketika waktu menunjukkan keabadiannya, manusia baru tersadar akan kesombongannya dalam menggunakan waktu. Secara gamblang kita paham bahwa semua manusia kelak akan meninggal, sedangkan waktu terus berjalan. Untuk itu, selagi belum mencapai batas waktu kita, gunakan detik demi detik dengan bijak agar tidak mempertanyakan apa guna hidup setelah membaca puisi Yang Fana Adalah WaktuBagi kalian yang membaca serta menghayati puisi ini mungkin akan tersentuh dan termenung. Karena ini bukan hanya rangkaian kalimat pendek, melainkan sebuah pengingat dari manusia untuk manusia lainnya. Melalui puisi ini, saya jadi belajar merefleksi diri sendiri untuk mengingat kembali apakah saya sudah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Pak Sapardi mampu menyampaikan pesan yang amat bijaksana dengan menggunakan sedikit pilihan kata, kemudian merangkainya secara singkat dan sederhana. Semoga pesan yang disampaikan Pak Sapardi lewat puisi ini selalu menjadi pengingat untuk kita, agar memanfaatkan waktu hidup sebaik mungkin dan tidak menjadi makhluk yang angkuh. Return to Article Details Analisis Puisi “Yang Fana Adalah Waktu” Karya Sapardi Djoko Damono dengan pendekatan Stilistika Download Download PDF

analisis puisi yang fana adalah waktu